Senin, 30 Mei 2016
Jogja pernah jadi ibu kota
By:
Unknown
On: 11.44
NICA datang membonceng Sekutu pada 29 September 1945. Kedatangan Sekutu melucuti militer Jepang di Indonesia dimanfaatkan oleh NICA untuk kembali merebut Indonesia. Kedatangan mereka membikin teror bagi pemimpin bangsa. Mobil Sutan Sjahrir diberondong peluru. Dilansir Kompas, setiap malam Soekarno selalu berpindah tempat karena diburu pasukan Intel Belanda.
Di tengah teror, Tan Malaka, aktivis pejuang kemerdekaan Indonesia, menyarankan agar pemerintahan dan republik Indonesia tetap berdiri, maka ibukota harus dipindahkan. Nama Jogjakarta dilontarkan oleh Hatta. Kata Hatta, Jogjakarta merupakan kota yang paling tepat untuk dijadikan Ibukota sementara. Sebab, semua rakyatnya patuh dan dapat dikendalikan oleh Sultan Hamengkubuwono IX. Selain itu, adanya kedekatan antara Sultan dengan Ratu Juliana juga menjadi pertimbangan.
Setelah Sultan menyetujui rencana tersebut, berangkatlah Soekarno dan Hatta ke Jogjakarta. Tepat pada 4 Januari 1946, mereka tiba dan sejak saat itu berpindah pula pusat pemerintahan negara yang baru berusia satu tahun lebih ini. Semua petinggi negara berlindung dalam Keraton. Sedangkan Soekarno ditempatkan di Gedung Agung. Dari sanalah Soekarno, dibawah lindungan Sri Sultan Hamengkubuwono IX menjalankan roda pemerintahan.
Berakhir Pada 17 Agustus 1950
Berawal dari kejeniusan Sultan Hamengkubuwono IX, maka terjadilah serangan umum 1 maret 1949. Dengan bantuan rakyat Jogjakarta, Belanda berhasil dipukul mundur. Hal ini mengejutkan dunia internasional yang berdampak pada kalahnya Belanda di PBB. Kekalahan militer dan politik ini membikin Belanda harus mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949.
Tanggal tersebut kerap disimpukan sebagai berakhirnya Jogjakarta sebagai Ibukota. Namun, menurut Prof. Dr. Bambang Purwanto, guru besar FIB UGM, Jogjakarta tidak lagi menjadi Ibukota bukan pada 27 Desember 1949, melainkan 17 Agustus 1950. Hal ini berdasar pada dari Peraturan Pemerintah No. 41 tentang Ijazah Guru Sekolah Lanjutan Umum/Vak yang ditetapkan di Yogyakarta, yang ditandatangani Mr. Assaat, selaku Pemangku Jabatan Presiden Republik Indonesia. Eksistensi Yogyakarta sebagai Ibukota RI berakhir secara resmi setelah RIS dibubarkan pada 17 Agustus 1950. Sejak saat itu, Jakarta kembali menjadi Ibukota Republik Indonesia.
Asal mula warteg
By:
Unknown
On: 11.13
Saat ini rumah makan siap saji asal negeri orang bertebaran di wilayah perkotaan. Namun rumah makan asli Indonesia pun masih bertahan seiring dengan makin ketatnya bisnis rumah makan seperti Rumah Makan Padang dan juga Warung Tegal atau yang biasa dikenal dengan nama Warteg.
Siapa yang tak kenal warteg? Tempat makan yang biasanya berbentuk bangunan bilik kecil berwarna biru dan bisa ditemukan dibanyak tempat. Pegawai kantoran bahkan mahasiswa pun tidak asing lagi dengan tempat makan yang menyediakan makanan dengan harga yang sangat cocok untuk saku mereka.
Ada beberapa versi tentang sejarah warteg. Pertama, beberapa kalangan percaya jika warteg muncul pada tahun 1950-an hingga 1960-an. Berawal dari pesatnya pembangunan di ibukota sehingga keberadaan tukang atau kuli bangunan semakin banyak. Peluang emas tersebut pun terbaca oleh warga Tegal, kelompok warga Tegal mulai menyediakan layanan kuliner dengan harga terjangkau bagi para kuli. Hal ini juga yang membuat Warteg sering ditemui didekat lokasi proyek pembangunan sampai saat ini.
Lalu ada versi kedua yang menyebutkan bahwa warteg bermula pada zaman Sultan Agung dan VOC. Pada saat itu Tegal menjadi wilayah perbatasan antara Mataram, Cirebon dan Batavia. Sultan Agung dua kali menyerang Batavia secara besar-besaran, berturut-turut tahun 1628 dan 1629. Untuk kepentingan penyerangan ini, Sultan Agung memerintahkan pembukaan lahan sawah di wilayah Indramayu, Karawang dan sekitarnya, untuk menjamin ketersediaan logistik pasukan yang akan bertempur. Bupati Tegal kala itu, Tumenggung Martoloyo ditunjuk sebagai senapati panglima perang, sekaligus menyiapkan pasokan makanan peperangan, termasuk penyediaan logistik.
Menurut buku yang ditulis oleh penulis asal Tegal, Suriali Andi Kustomo dalam bukunya Tegal, Kota yang Tak Pernah Tidur (2004), kuat dugaan Martoloyo mengerahkan warga Tegal juga menjadi petani yang menyiapkan lahan di Indramayu, hingga menjadi juru masak pasukan di Batavia.
Sejarah barbershop
By:
Unknown
On: 10.01
Barber (diambil dari kata Latin barba (yang berarti janggut). kebanyakan pria, yang memiliki pekerjaan menggunting berbagai jenis rambut dan merapikan serta memangkas jenggot dan kumis para lelaki. Tempat di mana mereka bekerja itulah yang biasanya disebut barbershop, Pas zaman pertengahan, ternyata gak cuma rambut yang boleh dipotong di barbershop tapi juga bisa lakuin operasi bedah kecil, cabut gigi plus nyedot darah pakai lintah (dulu buat jadi obat)
Penguasa Perancis dulu membagi dua macam pengobatan, ada ahli bedah profesional (doktor) dan tukang bedah amatir (tukang bedah yang ada di barbershop)
Abad ke-14 tukang bedah amatir udah dapet ijin buat punya pekerja dan mereka juga bisa belajar ilmu bedah profesional di fakultas kedokteran di Paris University.
Ambroise Pare yang merupakan tokoh bedah modern plus ahli bedah kerajaan Perancis juga ternyata bermula sebagai tukang bedah barbershop
SEJARAH TIANG LAMPU BARBER
Awalnya pemakaian tiang lampu warna putih ama warna merah dan biru yang berputar melilit adalah kebiasaan bagi para tukang sedot darah yang jemur pembalut/bandage yg telah dipakai dan berlumuran darah di depan klinik mereka.
Lalu pembalut/bandages yang dijemur itu ketiup angin jadi mutar melilit dan menimbulkan variasi warna merah putih, lama kelamaan kebiasaan itu jadi trademark di tiap klinik plus jadi pemberitahuan buat orang-orang kalau tempat itu klinik Barbershp.
Seiring jalannya waktu, pemandangan itu membuat sebagian orang merasa jijik, jadi dibuat lah tiang putih yang di cat pakai warna merah dan biru sebagai pengganti pembalut/bandages yg digantung.
Tiang warna putih gambarin pembalut/bandages, warna merah itu aliran darah nah warna biru gambarkan urat/pembuluh vena tempat darah disedot, bulatan diatas tiang gambarkan bekas buat penyimpanan lintah, sementara bulatan dibawah itu bekas buat nampung darah, tapi waktu itu modelnya masih kaku gak muter
1950an: Amerika buat model lebih sempurna, yang bisa berputar dan bekas yang diatas tiang diganti ama bola. Barbershop juga udah gak jadi klinik sedot darah tapi buat tempat motong rambut aja
1950 - 1967: Dari cuma satu perusahaan aja udah terjual sebanyak 50,000 buah tiang tanda Barbershop ini, seiring dengan banyaknya Barber Shop di Amerika nah tahun 1996 penjualannya capai rata-rata 70,000 buah
Tapi pas tahun 1996 penjualannya merosot terus karena ada peraturan yang batasin pemakaian tiang ini dengan alasan bikin pusing kepala kalau terlalu banyak di pinggir jalan dan bisa ganggu pengemudi yg lewat
Walau demikian, model tiang ini merebak pesat ke seluruh dunia dan hampir seluruh dunia juga sepakat kalau tiang ini jadi tanda tempat memotong rambut atau Barbershop.
another info: tiang berputar artinya barber shop itu buka, kalau berhenti berputar artinya tutup
Langganan:
Postingan (Atom)

